Dec 23, 2012

Teknik dan Metode Detektif

Wuiissss..... judulnya ya. Obsesi banget apa neng?? :))
Entah kenapa dari dulu tuh kegiatan menelisik dan mengamati orang itu hal yang secara gak sadar ternyata suka gue lakukan (menelisik dan mengamati orang ya. bukan data. -___-). Tanpa sadar juga ternyata gue sering men-stalking orang secara berlebihan. Kepo banget yak. :| Dan yang gw temukan memang aktivitas ini ternyata menyenangkan. (aduh, dosa gak ya? :|). Ah, mungkin ini juga efek dari kegemaran gw baca novel dan komik-komik detektif.

Tadi pagi, pas lagi buka kaskus gw nemu thread ini. Excited banget dong bacanya,, xD
Apa aja si keahlian yang dibutuhin untuk jadi seorang detektif? Let's see, apakah gw cocok atau enggak jadi detektif. Hihihi,,

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Beberapa keahlian yang dibutuhkan oleh detektif :

Kemampuan daya ingat, meskipun dengan pandangan sekilas. Ini antara lain berguna ketika kita menemui kasus
tabrak lari, dan nomor polisi kendaraan menjadi fakta penting. Selain itu juga disertai kemampuan memanggil kembali ingatan yang lama.

(yaah... baru syarat pertama aja gue udah gugur. gue kan suka pelupa. :( apalagi soal pelajaran. *tepok jidat*)

Kejelian dan cermat terhadap hal-hal detil. Sherlock Holmes adalah ‘pakar’ dalam detil dan kecermatan—dengan catatan, jika Holmes itu sosok yang nyata. Dalam setiap memecahkan masalah, Sherlock Holmes selalu melakukan observasi—pengamatan langsung di lapangan.

(yaaah.... yang kedua gue juga gugur T-T gue orangnya kurang telitiiii..... T-T)


Kemampuan meng-interogasi. Semakin tinggi kemampuan interogasi yang dimiliki seseorang, ia akan mudah mengorek fakta, ‘fakta’ palsu, atau keterangan dari seseorang—tanpa orang itu menyadarinya. Kemampuan ini juga beriringan dengan keahlian menggunakan teknik pembuktian terbalik dalam menginterogasi seseorang. “Pandai-pandailah memancing pertanyaan dengan fakta yang salah, maka ia akan memberikan fakta sebenarnya”. Memang tidak selalu berhasil, tetapi bisa dicoba.

Kemampuan bernegosiasi. Ini masih berkaitan dengan kemampuan meng-interogasi. Kemampuan bernegosiasi sangat penting, dalam praktik-praktik di lapangan, dimana dibutuhkan keberanian menembus kebekuan seseorang, menghadapi orang keras kepala, dan sebagainya

Pengetahuan terhadap hukum perundang-undangan yang berlaku.

Kemampuan menganalisa. Ini penting untuk menguji kebenaran fakta—baik fakta benda atau fakta lisan. Detektif yang baik tidak pernah berangkat dari titik motif; selalu harus dari fakta-fakta. Sherlock Holmes mengajari kita bagaimana metode ilmiah (scientific method, metode eliminasi atau eksklusi, mempersempit pencarian, dan mempermudah memecahkan masalah). Memang membingungkan, apakah Holmes itu ‘ilmuwan yang nyasar jadi detektif’, ataukah ‘detektif dengan sambilan ilmuwan’? Dalam suatu kisahnya, Holmes menulis artikel tentang tanaman atau obat- obatan di sebuah jurnal. Dengan pikiran yang sangat logis, Holmes bisa disebut seorang matematikawan. Dengan percobaan-percobaannya di laboratorium, Holmes juga bisa disebut fisikawan atau kimiawan. Ada beberapa penemuannya yang dipakai oleh kepolisian Scotland Yard.

Metode eliminasi atau eksklusi, maksudnya dengan menyingkirkan hal-hal yang sudah pasti mustahil—setelah diuji dengan fakta dan observasi. Untuk meningkatkan kemampuan analisa, ada banyak hal yang harus dipelajari—tidak hanya metode deduksi, induksi, atau kombinasi keduanya. Ada pula metode analisa dengan Analisa Cartesian dan sebagainya. Hal-hal tersebut bisa dipelajari dari internet atau buku-buku yang ada.

Kemampuan penting lainnya, diantaranya teknik penyamaran, teknik mengikuti/membuntuti seseorang, teknik melacak/tracking, maupun pengetahuan forensik sederhana dalam kasus kriminal. Contoh pengetahuan forensik sederhana; seseorang yang ditemukan meninggal dengan leher membiru, dipastikan meninggal kehabisan nafas. Kemudian Teknik Cryptograph dan code breaker, contoh code breaker sederhana : Caesar Chiper atau sandi Caesar dalam kriptografi sandi Caesar adalah satu teknik enkripsi paling sederhana dan paling terkenal, sandi ini termasuk sandi substitusi dimana pada huruf teks terang (plain text) digantikan oleh huruf lain yang memiliki selisih posisi tertentu dalam alfabet. Misalnya, jika menggunakan geseran 3, W akan menjadi Z, I menjadi L, dan K menjadi N sehingga teks terang “wiki” akan menjadi “ZLNL” pada teks tersandi. Nama Caesar diambil dari Julius Caesar, jenderal, konsul, dan diktator Romawi yang menggunakan sandi ini untuk berkomunikasi dengan para panglimanya.

Langkah enkripsi oleh sandi Caesar sering dijadikan bagian dari penyandian yang lebih rumit, seperti sandi Vigenère, dan masih memiliki aplikasi modern pada sistem ROT13. Pada saat ini, seperti halnya sandi substitusi alfabet tunggal lainnya, sandi Caesar dapat dengan mudah dipecahkan dan praktis tidak memberikan kerahasiaan bagi pemakainya.

Cara kerja sandi ini dapat diilustrasikan dengan membariskan dua set alfabet; alfabet sandi disusun dengan cara menggeser alfabet biasa ke kanan atau ke kiri dengan angka tertentu (angka ini disebut kunci.) Misalnya sandi Caesar dengan kunci 3, adalah sebagai berikut:


Alfabet Biasa: ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ
Alfabet Sandi: DEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZABC


Untuk menyandikan sebuah pesan, cukup mencari setiap huruf yang hendak disandikan di alfabet biasa, lalu tuliskan huruf yang sesuai pada alfabet sandi. Untuk memecahkan sandi tersebut gunakan cara sebaliknya. Contoh penyandian sebuah pesan adalah sebagai berikut.

teks terang: kirim pasukan ke sayap kiri
teks tersandi: NLULP SDVXNDQ NH VDBDS NLUL


Ada juga Anagram, Anagram adalah salah satu jenis permainan kata , di mana huruf-huruf di kata awal biasa diacak untuk membentuk kata lain atau sebuah kalimat. Tapi bisa juga dijadikan sebuah kode rahasia dengan cara mengacak kata-kata yang ada tanpa menambah dan mengurangi nya.

Contoh : TOM MARVOLO RIDDLE bisa berubah menjadi IM LORD VOLDEMORT (dalam film harry potter)

Masih banyak lagi contoh kode-kode yang lainnya, kita pun bisa membuat kode sendiri dengan cara kita, tinggal pandai-pandai kita saja dalam memahami sandi dan kode, sehingga bisa tercipta sebuah kode baru dengan metode pemecahan yang lebih rumit, lebih sulit dan lebih menarik. Seperti contoh kasus di bawah ini

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Teori Deduktif ala Sherlock Holmes

Pemakaian teori yang dilakukan Sherlock Holmes di setiap kisahnya sangat baik diterapkan di dunia nyata.

Many Faces of Sherlock

Penalaran induktif adalah penalaran yang mengambil contoh-contoh khusus yang khas untuk kemudian diambil kesimpulan yang lebih umum. Penalaran ini memudahkan untuk memetakan suatu masalah sehingga dapat dipakai dalam masalah lain yang serupa. Catatan cara penalaran induktif ini bekerja adalah, meski premis-premis yang diangkat benar dan cara penarikan kesimpulannya sah, kesimpulannya belum tentu benar. Tapi kesimpulan tersebut mempunyai peluang untuk benar.

Contoh penalaran induktif adalah :

Domba punya mata. Kerbau punya mata. Rusa punya mata.
Kesimpulan: setiap hewan punya mata.


Penalaran induktif membutuhkan banyak sampel untuk mempertinggi tingkat ketelitian premis yang diangkat. Untuk itu penalaran induktif erat dengan pengumpulan data dan statistik.

Sedangkan penalaran deduktif adalah menarik kesimpulan khusus dari premis yang lebih umum. Jika premis benar dan cara penarikan kesimpulannya sah, maka dapat dipastikan hasil kesimpulannya benar. Jika penalaran induktif erat kaitannya dengan statistika, maka penalaran deduktif erat dengan matematika khususnya matematika logika dan teori himpunan dan bilangan.

Contoh penalaran deduktif adalah :


Semua hewan punya mata. Ayam termasuk hewan.

Kesimpulan: Ayam punya mata.

Untuk penerapan yang dilakukan Sir Arthur Conan Doyle pada Sherlock Holmes seperti pada ilustrasi berikut:

Sherlock Holmes bertemu dengan kliennya yang memintanya untuk menyelidiki sebuah kasus. Holmes dapat mengatakan siapa orang yang ada dihadapannya hanya dengan melihat penampilan fisiknya saja. Holmes dapat mengetahui profesi dan masa lalu kliennya dengan melihat guratan-guratan di tangan kliennya, sepatu yang dikenakannya, atau dari abu rokok, dsb.

Untuk dapat melakukan teknik ini, dibutuhkan pengetahuan yang sangat luas, informasi yang up-to-date, karena setiap orang memiliki ciri-ciri dan latar belakang yang berbeda. Maka dari itu sebaiknya perbanyak pula membaca berita atau informasi terbaru melalui media berita internet, koran, dsb.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Social Engineering ala Kevin Mitnick




Teknik ini dipopulerkan oleh Kevin David Mitnick, seorang hacker legendaris yang sangat paham betul dengan sistem keamanan komputer dan jaringan yang dulu menjadi buronan FBI. Kevin juga pernah merilis 2 buku tentang hacking yang melambungkan teknik Social Engineering ini.

Social Engineering (Rekayasa Sosial) adalah pemerolehan informasi atau maklumat rahasia/sensitif dengan cara menipu pemilik informasi tersebut. Social engineering mengkonsentrasikan diri pada rantai terlemah sistem jaringan komputer, yaitu manusia.


Social Engineering dengan melakukan hubungan telepon

Yang paling sering terjadi adalah metode ini. Dengan melakukan sedikit trik seorang attacker yang berpengalaman akan mampu membuat pegawai yang menerima telepon mengucapkan username maupun passwordnya atau informasi lainnya yang dibutuhkan attacker.

Biasanya pegawai yang bertugas di line depan seperti bagian informasi atau customer service yang akan dihubungi karena selain mereka memang dilatih untuk selalu bersikap ramah dan memberikan informasi kepada penelpon. Mereka akan selalu berusaha memberikan informasi yang diminta penelpon secepat mungkin agar bisa segera menerima penelpon berikutnya tanpa sempat memikirkan sesuatu yang dapat dilakukan oleh penelpon dengan informasi yang telah diberikannya. Dari mereka biasanya attacker mendapatkan informasi yang diinginkannya dengan mudah.

Bisa juga dengan langsung menelpon ke admin. Misalnya setelah seorang attacker mempelajari suatu perusahaan yang menjadi sasarannya, dia akan menelpon ke admin dengan mengaku sebagai pegawai yang ada di perusahaan tersebut. Karena dia telah mempelajari, bisa saja dia mengaku sebagai pegawai A yang menempati ruang kantor sebelah B di urutan meja ke X. Setelah merasa admin bisa diperdaya, dia akan mengatakan ,”Buku catatan kecil saya yang berisikan catatan password tertinggal di meja sehingga saya tidak bisa menyelesaikan pekerjaan saya dari rumah. Bisakah anda mengambilkan untuk saya ?” Seorang admin tentunya terlalu sibuk untuk dapat mengambilkan buku catatan seseorang, dan karena dia telah merasa yakin penelpon adalah pekerja di situ, dia cukup membuka database dan memberitahukan password ke penelpon..


Dumpster Diving

Dumpster diving atau juga disebut trashing adalah metode populer lainnya, yaitu attacker mengumpulkan informasi dengan memeriksa sampah perusahaan sasaran.. Buku telepon akan memberikan petunjuk nama dan nomor orang-orang yang bisa dihubungi, kalender menunjukkan pekerja mana saja yang akan bertugas keluar kota pada saat tertentu, catatan kerja harian bisa dipelajari untuk dicari kelemahannya, dsb.
Koneksi Internet

Ketika seorang pekerja sedang melakukan koneksi Internet, tiba-tiba sebuah pop-up window keluar dan mengatakan bahwa koneksinya terputus dan untuk itu dia harus kembali menuliskan username dan passwordnya. Tanpa curiga pekerja tadi akan melakukannya dan semudah itu attacker mendapatkan informasi.

Sebuah kesalahan yang sering dilakukan adalah orang cenderung untuk menggunakan password yang sama untuk berbagai layanan yang dimilikinya, misalnya untuk e-mail, messenger, ATM, dsb. Pengiriman e-mail juga sering dilakukan karena e-mail bisa membawa berbagai virus dan trojan.

Pada intinya dengan bekal pengetahuan dan pemahaman tentang keamanan jaringan yang kurang, manusia sebagai user bisa melakukan berbagai tindakan yang membahayakan keamanan jaringan dan secara tidak langsung membantu attacker untuk menyusup ke dalamnya.


Pendekatan Psikologi

Selain cara-cara di atas, seorang attacker bisa menggunakan langkah-langkah psikologis untuk mendapatkan informasi, yaitu dengan mengadakan sebuah ikatan emosional dalam tujuan mendapatkan kepercayaan. Lambat tapi pasti, begitu memperoleh kepercayaan setiap rahasia pun akan berada di tangannya.


Point-point penting dalam kasus pembunuhan
  • Mencari senjata yang digunakan pelaku.
  • Mengecek alibi tiap-tiap orang yang berkaitan, >>> si pelaku memakai panggung belakang supaya tak ada kesempatan dirinya dinyatakan sebagai pembunuh, biasanya orang yang alibinya paling lemah, atau tak punya alibilah pelakunya, tapi hati-hati terhadap skenario pelaku yang kadang justru menjebak orang lain.
  • Memeriksa tempat kejadian, periksa dengan seksama seluruh TKP, meskipun terhadap hal yang dianggap orang tak penting, dan jangan lupa memeriksa tempat sampah yang berada pada jangkauan TKP.
  • Melacak ciri-ciri pelaku, hati-hati terhadap penyamaran identitas pelaku, contoh : mungkin saja pelaku membuat dirinya seolah-olah laki-laki padahal dia perempuan (menggaraukan suara di telpon misalnya).

--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Gimana gimana? Udah memenuhi kriteria buat jadi detektif gak??
Kayanya gue mah enggak. -_____-

Setelah baca teknik-teknik tadi, jadi keingetan sama tokoh-tokoh fiksi di kisah detektif. Seperti Sherlock Holmes, karakter ciptaan Sir Arthur Conan Doyle yang juga mempengaruhi karakter-karakter di komik Jepang Detective Conan (Meitantei Conan), terkenal dengan deductive reasoning nya. Sherlock Holmes memang karakter yang logis dan ilmiah banget. Berbeda dengan tokoh-tokoh ciptaan Agatha Christie kaya Hercule Poirot, Miss Marple, dan Perry Mason yang lebih menggunakan pendekatan teknik psikologi.

Kalo dulu, sebelum kenal dengan tulisan-tulisan Agatha Christie (tokoh Hercule Poirot tepatnya) gw rada ngantuk juga bacanya, karena di alur cerita dalam novel itu memang pendekatannya secara psikologis kepada tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita tersebut. Dan kalo gw rasa juga dari segi cerita, pembaca (baca: me) pasti agak sulit ikut nebak tersangkanya. Ya, karena itu, teknik yang digunakan oleh tokoh Hercule Poirot lebih ke pendekatan psikologi. Sedangkan bukti-bukti fisik kriminalnya memang terbilang lebih sedikit dibandingkan dengan metodenya Sherlock Holmes.

Bahas tentang Sherlock dan Poirot, jadi keingetan sama buku-buku yang belum selesai gw baca. Tapi ada perubahan interest dalam diri gw ni sekarang. Setelah kenal sama Hercule Poirot dengan meminjam buku-bukunya sama Ana (hehe), gw jadi agak bingung baca kisahnya Sherlock Holmes. Salah lagi salah lagi nebak pelakunya. Ah, emang gak bakat jadi detektif kayaknya. :/

--------------------------------------------------------------------------------------------
Reference:

http://www.kaskus.co.id/post/000000000000000745507336#post000000000000000745507336

5 comments:

Firnanda said...

Nice Posting !

nourygagarin said...

gue malah lebih demen sama agatha christie karena pendekatan psikologisnya. kalo doyle tuh terlalu banyak istilah, misal nama-nama senjata, ciri-ciri fisik korban, forensik banget gitu. kan kita yang orang awam nggak ngerti :))

dwi nurani said...

pas awal baca kisah Sherlock Holmes itu keren banget nuriiii.... >< tapi pas udah kenal dan terbiasa sama Hercule Poirot gw jadi bingung dan ngantuk gitu baca karyanya Sir Arthur. karena emang beda cara mereka nuntasin suatu kasus.

eh, tapi suka nonton serial Sherlock yang di fox crime gak?? itu kereeennn.... >< *padahal gue gak pake tv kabel jugak* :))

sofia zhanzabila said...

Aku Agatha Loverssss.... Keren banget di tahun sejadul itu, Agatha bisa bikin novel seunik dan sebrilian itu. eh Holmes juga jadul ya kan. Aku belum pernah baca karyanya Arthur... ntaar deh mo download ebook nya.

dwi nurani said...

waah.. bukunya Sir Arthur juga keren2 loh. tapi klo komik2 kaya detektif conan pernah baca kan? dia pengaruhnya banyak banget dari karya Sir Arthur :D