Jan 12, 2013

Tujuh Indikator Kebahagiaan

Pada minggu yang lalu, seperti biasa agenda senin pagi hari di kantor gw diisi dengan doa pagi bersama dan kajian manajemen hidup. Kajian ini dibuatkan jadwal oleh divisi HRD, jadi setiap minggunya para amil bertugas untuk menyampaikan materi dari apa yang telah dipahami/dipelajarinya. Intinya sih, ini jadi kaya semacam ajang sharing knowledge gitu ya...

Nah, yang ingin gw coba tulis ulang dari materi yang disampaikan salah satu rekan di kantor minggu lalu adalah tentang indikator kebahagiaan. Materi kajian yang berasal dari salah satu artikel di Republika Online tersebut menjelaskan ada tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disampaikan oleh Ibnu Abbas RA (salah seorang sahabat Rasulullah SAW). Tujuh indikator itu adalah:


  1. hati yang bersyukur (ikhlas)
  2. pasangan hidup yg shaleh
  3. anak yg shaleh
  4. lingkungan yg kondusif unutk iman kita
  5. harta yg halal dan didapatkan dr negeri sendiri
  6. semangat memahami agama
  7. umur yg berkah


Ibnu Abbas RA adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang dijuluki Turjumaanul Qur’an (ahli menerjemahkan Alquran). Dia sangat telaten menjaga dan melayani Rasulullah SAW. Dia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW. Pada usia sembilan tahun Ibnu Abbas telah hafal Alquran dan telah menjadi imam di masjid.

Sejak kecil Ibnu Abbas sudah menunjukkan kecerdasan dan semangatnya menuntut ilmu. Beragam gelar diperolehnya. Seperti faqih al-ashr (ahli fikih di masanya), imam al-mufassirin (penghulu ahli tafsir), dan al-bahr (lautan ilmu).

Suatu hari ia ditanya seorang tabiin (generasi sesudah para sahabat) mengenai kebahagiaan dunia. Ibnu Abbas menjawab ada tujuh indikator kebahagiaan dunia. Pertama, hati yang selalu bersyukur. Selalu menerima apa yang diberikan Allah SWT dengan ikhlas. "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.” (QS al-Mu’minun [23]: 1). 

Kedua, pasangan hidup yang saleh. Pasangan saleh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang saleh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada keshalehan. Sebaliknya, istri yang shalehah akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suami dan anak-anaknya.

Ketiga, anak yang shaleh. Rasulullah SAW bersabda, "Apabila seorang anak Adam mati maka terputuslah seluruh amalnya kecuali dari tiga perkara; sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang selalu mendoakan orang tuanya." (HR Muslim).

Rasulullah SAW pernah menjawab pertanyaan seorang anak muda yang selalu menggendong ibunya yang uzur. “Ya Rasulullah, apakah aku termasuk berbakti pada orang tua?” Rasulullah SAW menjawab, “Sungguh Allah ridha kepadamu, kamu anak shaleh, berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orang tuamu tidak akan terbalaskan olehmu.”

Keempat, lingkungan yang kondusif untuk iman kita. (QS at-Taubah [9]: 119). Rasulullah SAW juga mengajarkan agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasihati kita. Pentingnya bergaul dengan orang shaleh, dapat kembali membangkitkan semangat keimanan.

Kelima, harta yang halal. Dalam Islam kualitas harta adalah yang terpenting, bukan kuantitas harta. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam Bab Shadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah bagus, namun sayang makanan, minuman, dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan.”

Keenam, semangat memahami agama. Semakin belajar, semakin cinta kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan menghidupkan hatinya.

Ketujuh, umur yang berkah. Semakin tua semakin shaleh, yang setiap detiknya diisi amal ibadah. Orang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, hari tuanya akan sibuk berangan-angan. Hatinya kecewa bila tidak mampu menikmati yang diangankannya. Orang yang mengisi umurnya dengan amal ibadah, semakin tua semakin rindu bertemu Allah SWT.


Setelah kajian ini selesai, salah seorang pimpinan turut menambahkan tentang beberapa mitos yang menjadi penghalang kebahagiaan kita. Jadi kalo kesimpulan gw pribadi itu, ternyata hal-hal yang justru menjadi penghalang kebahagiaan kita tuh berasal dari mindset  yang salah dari diri kita sendiri. Hal-hal tersebut yaitu:

  1. Kebahagiaan adalah kondisi yang sudah ada sejak awal. Hal ini salah, karena kebahagiaan itu harus diusahakan bukan hanya ditunggu keberadaannya.
  2. Kita baru akan bahagia jika mendapat apa yg kita inginkan. Remember please, kebahagiaan itu bukan selalu berasal dari terpenuhinya hasrat saja. Dan yang terutama jangan pernah mengukur kebahagiaan dengan materi. You know kan, sering kali manusia mati karena gengsi. *evil smirk*
  3. Kebahagiaan ada di masa depan. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, memang bener si pepatah ini. Tapi, yang namanya kebahagiaan justru banyak ditemukan dalam proses mencapai sesuatu looh... So, enjoy your journey
  4. Merasa orang lain lebih bahagia dari diri kita sendiri. Waini nih, yang amat sangat menghambat kebahagiaan kita. Kalo bahasa sehari-harinya mah ini namanya sirik. Ngeliat orang tuh kayaknya lebih bahagiaaaa aja dari kita. Ayolah, coba syukuri apa yang kita miliki. Syukur itu nikmat and practically, membawa kebahagiaan.
  5. Merasa bahagia jika dapat merubah orang lain. Kalo yang ini si mulia banget sebenernya. Baru bisa tenang dan bahagia kalo kita udah bisa berbuat sesuatu untuk orang lain. Tapi diinget juga yaa... hati kita sendiri juga perlu dapat asupan kebahagiaan.
Hmm... jadi gimana. Mau hidup bahagia gak? :D

----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Reference:
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/05/16/m4417k-tujuh-indikator-kebahagiaan

No comments: